Showing posts with label Sejarah Daerah Lamongan. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Daerah Lamongan. Show all posts

Lamongan's History

Lamongan, daerah yang penuh kekayaan akan alam dan budaya dengan Bupati pertama Tumenggung Surajaya dulunya adalah daerah yang terkenal miskin di Jawa Timur, tetapi seiring berkembangnya zaman dan pergantian para pemimpin atau Bupati, Lamongan dikit demi sedikit berkembang hingga mencapai puncaknya tahun 2001 sampai sekarang sejak kepemimpinan Bupati Masfuk S.H.

Daerah yang dulunya daerah miskin dan langganan banjir, berangsur-angsur bangkit menjadi daerah makmur dan menjadi rujukan daerah lain dalam pengentasan banjir. Dulu ada pameo “ Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok, nek ketigo gak iso cewok “ tapi kini diatasi dengan semboyan dari Sunan Drajat, Derajatnya para Sunan dan Kyai “ Memayu Raharjaning Praja “ yang benar-benar dilakukan dengan perubahan mendasar, dalam mensejahterahkan rakyatnya masih memegang budaya kebersamaan saling membantu sesuai pesan kanjeng Sunan Drajat “ Menehono mangan marang wong kangluwe, menehono payung marang wong kang kudanan , menehono teken marang wong kang wutho, menehono busaono marang wong kang wudho “.

Dulunya Lamongan juga merupakan pintu gerbang ke Kerajaan Kahuripan, Panjalu, Jenggala, Singosari dan Kerajaan Mojopahit. Begitu juga sekarang, Lamongan Sebagai daerah persimpangan antara Tuban-Surabaya, Semarang-Jombang, dan Mojokerto.

Hari sejarah kota Lamongan

26 Mei adalah piala berharga bagi daerah Lamongan. 10 Dzulhijah 976 H atau 26 Mei 1569 M. bertepatan dengan diwisudanya Adipati Lamongan Yang pertama yaitu Tumenggung Surayaja, yang waktu mudanya bernama Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia lalu disebut Ranggahadi. Ranggahadi kemudian juga bernama Mbah Lamong, yaitu sebutan yang dibereikan oleh rakyat daerah ini.

Karena Ranggahadi pandai Ngemong Rakyat, pandai membina daerah dan mahir menyebarkan ajaran agama Islam serta dicintai oleh seluruh rakyatnya, dari asal kata Mbah Lamong inilah kawasan ini lalu disebut Lamongan.

Adapun yang mewisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama, tidak lain adalah Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen. Wisuda tersebut bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah masuk agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

Dulunya perkembangan daerah Lamongan, sepenuhnya berlangsung dijaman keislaman denga Kasultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat/mewisuda Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang, melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu disebabkan Kanjeng Sunan Giri prihatin terhadap Kasultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang efektif dan dinamis. Disamping itu Kanjeng Sunan Giri juga merasa prihatin dengan adanya ancaman dan perbuatan para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin menguasai Nusantara khususnya Pulau Jawa.

Tumenggung Surajaya adalah Hadi yang berasal dari dusun Cancing yang sekarang termasuk wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Hadi sudah mengabdi di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik, pemuda yang trampil, cakap dan cepat menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan. Disebabkan pertimbangan itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan Agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di Kawasan yang terletak di sebelah barat Kasunanan Giri yang bernama Kenduruan. Untuk melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberian pangkat Rangga kepada Hadi.

Rangga Hadi dengan segenap pengikutnya dengan naik perahu melalui Kali Lamong, akhirnya dapat menemukan tempat yang bernama Kenduruan itu. Adapu kawasan yang disebut Kenduruan tersebut sampai sekarang masih ada dan tetap bernama Kenduruan, berstatus Kampung di Kelurahan Sidokumpul wilayah Kecamatan Lamongan. Di daerah baru tersebut ternyata semua usaha dan rencana Rangga Hadi dapat berjalan dengan mudah dan lancar, terutama di dalam usaha menyebarkan Agama Islam,mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Pesantren untuk menyebar Agama Islam.